DISCLAIMER

BLOG ini adalah karya pribadiku. Semua cerita di blog ini benar-benar terjadi dan merupakan pengalaman pribadiku. Referensi dan informasi umum aku ambil dari internet (misalnya wikipedia, google map, dan lain-lain).

SEMUA FOTO dan VIDEO yang ada di blog ini adalah karya pribadiku, suamiku, atau putriku, baik menggunakan kamera DSLR maupun smartphone. Jika ada yang bukan karya pribadi, akan disebutkan sumbernya.

Karena itu mohon untuk TIDAK menggunakan/mengcopy/mengedit isi cerita dan foto-foto yang ada di blog ini dan memanfaatkannya untuk keperluan komersial/umum tanpa ijin tertulis dariku.
Jika ingin mengcopy-paste isi maupun foto yang ada di blog ini untuk keperluan pribadi, diharapkan menyebutkan sumber dan link asal.

"JANGAN ASAL COPY-PASTE karena BLOG JUGA ADALAH HASIL KARYA CIPTA. Biasakan untuk meminta ijin kepada pemilik karya atau paling tidak menyebutkan sumber asal."
Showing posts with label Couchsurfing. Show all posts
Showing posts with label Couchsurfing. Show all posts

Monday, October 16, 2017

MY COUCHSURFING EXPERINCE (2) - THE COUPLE FROM USA



Tanggal 3 Januari 2017, akhirnya aku resmi bergabung dengan komunitas Couchsurfing dengan mendaftar menjadi anggota, dan membayar sebesar US$ 20 (per tahun). Tujuannya kalau kami berdua suatu saat mungkin berlibur ke luar negeri, ngarep bisa pakai fasilitas ini biar agak hemat pengeluaran buat nginep hahahaha, jadi US$ 20 untuk 1 tahun bisa dianggap sepadan deh... (tapi belakangannya malah nggak terlalu minat lagi untuk jadi surfer, lebih suka jadi host saja hehehehe)

Pengalaman keduaku menjadi host terjadi secara kebetulan. Saat itu aku dan suamiku sedang liburan (lagi) ke Bali. Tanggal 14 Januari tepatnya, kami berdua sedang mengunjungi Munduk Waterfall, dan selain kami berdua, hanya ada beberapa turis asing. Kami mengambil foto seperlunya saja, dan lebih banyak mengagumi air terjunnya yang tinggi dan deras sekali airnya. Kemudian seorang perempuan Asia mengambil tempat di depan air terjun dan berfoto lama sekali di sana dengan berbagai macam gaya dan kostum. Setelah selesai, gantian seorang perempuan muda dari Eropa yang melakukan hal yang sama, bergaya bagaikan model yang sedang memperagakan bikini yang dia kenakan. Saat itulah sepasang turis asing lainnya yang tampak sudah separuh baya, berkomentar agak miring mengenai para foto model dadakan ini, yang lalu kutanggapi dengan nada setuju.
Dari situlah kemudian terjadi percakapan di antara kami, dan setelah mereka tahu kami berasal dari Banyuwangi, mereka bertanya apakah di Banyuwangi tidak susah mencari akomodasi, karena mereka berencana akan ke Banyuwangi dalam beberapa hari ke depan untuk naik ke Ijen.
Dari pembicaraan sebelumnya, aku merasa cocok dengan mereka berdua, sepertinya kami memiliki prinsip yang sama mengenai travelling dan alam. Karenanya sekalian kami undang mereka untuk menginap di rumah saja kalau mau. Sepertinya mereka masih agak ragu-ragu, jadi aku memberikan nomor HP-ku kepada mereka, kalau-kalau mereka mau ke Banyuwangi dan jadi ingin ke rumah. Ternyata mereka berdua berasal dari USA, namanya Danny dan Dorit. Setelah itu kami berpisah, dan keesokan harinya kami berdua pulang ke Banyuwangi.

Tiga hari berlalu setelah pertemuan di air terjun tersebut, dan aku sedang berada di tempat kerja ketika mendapat WhatsApp dari Danny, katanya mereka akan datang hari itu ke Banyuwangi, dan bertanya apakah tawaranku masih berlaku untuk menginap di rumah. Tentu saja aku mengiyakan dan memberikan alamat rumah.

Siang menjelang sore hari, Danny dan Dorit datang ke rumah naik taxi. Kami menyambut kedatangan mereka berdua dengan semangat. Kamar tidur pun sudah disiapkan. Kami mengobrol ngalor ngidul mengenai hal-hal yang umum. Oya, untuk ke Ijen, saat itu aku baru saja diberi nomor sebuah agen tour ke Ijen oleh salah seorang teman Couchsurfing juga. Jadi aku menyarankan Danny dan Dorit menggunakan jasa tour tersebut, dan mereka setuju. Biayanya IDR 300K per orang, sudah termasuk tiket masuk (IDR 100K), transport antar jemput sampai tujuan, masker gas, dan guide selama pendakian ke Ijen. Mereka akan langsung berangkat malam harinya.

Sore harinya, aku memasakkan makan malam sederhana untuk mereka berdua. Hanya mie goreng tanpa daging. Dorit adalah seorang vegetarian. Danny sendiri bisa makan ikan, tapi tidak makan daging yang lain. Karenanya yang aman ya dibuatkan mie goreng telur saja hehehehe... 
Malam harinya kami sempat mengajak Danny dan Dorit untuk mengunjungi tempat kami bekerja, lalu jalan-jalan sebentar ke taman Sritanjung, taman di pusat kota Banyuwangi, yang kebetulan letaknya sangat dekat dengan toko kami. Lalu kami ajak berkeliling kota naik mobil juga, untuk melihat-lihat suasana di Banyuwangi pada malam hari.



Sesampai di rumah, kami masih mengobrol sebentar, sampai sekitar jam 9 malam, Danny dan Dorit berpamitan untuk tidur supaya ada kesempatan untuk beristirahat sebelum berangkat ke Ijen.
Lewat tengah malam, aku sempat terbangun karena Tyson, anjing peliharaanku, menggonggong cukup ramai. Ternyata saat itulah Danny dan Dorit dijemput oleh mobil tour. Kami sudah mempersilakan mereka keluar lewat pintu depan dan tidak perlu membangunkan kami.

Keesokan paginya, mereka berdua kembali ke rumah diantar oleh mobil yang sama sekitar jam 8 pagi. Setelah mandi, mereka berdua istirahat, sementara aku sendiri sibuk di dapur.
Sekitar jam 10.30 pagi, saat aku sedang beristirahat, aku mendengar Dorit bangun dan keluar dari kamar. Katanya sudah merasa cukup segar dan susah untuk tidur lagi, jadi dia bangun. Kami pun mengobrol di dapur sambil minum kopi. Sesaat kemudian, Danny juga keluar dari kamar dan ikut mengobrol.

Untuk makan siang, aku masak nasi goreng untuk mereka berdua. Setahuku, kebanyakan turis asing memang suka sekali makan nasi goreng dan mie goreng kalau berkunjung ke Indonesia, karenanya aku berusaha menyajikan makanan yang walaupun sederhana, tapi disukai orang pada umumnya.

Dari banyak mengobrol ini, aku jadi tahu lebih banyak mengenai mereka berdua. Danny sudah berusia 62 tahun, dan Dorit 57 tahun, tapi mereka berdua tampak sangat fit di usianya. Mendaki Ijen bagi mereka bukan hal yang berat. Mereka berdua sudah menikah selama 32 tahun.
Keduanya berpenampilan sangat sederhana, bahkan kaos yang mereka kenakan tampak butut, tapi dari cerita-cerita dan sikap mereka, aku tahu bahwa mereka termasuk yang sangat mapan dari segi keuangan.
Mereka sendiri berasal dari Israel, lahir, tinggal dan dibesarkan di negara tersebut, namun  kemudian bermigrasi dan sampai saat ini sudah belasan tahun menetap di USA. Mereka mempunyai 3 orang anak yang semuanya sudah dewasa,
Danny sendiri dulunya adalah praktisi IT (sepertinya programmer), yang kemudian pensiun dini di usia 50-an, lalu mempelajari pengobatan tradisional ala Asia, sedangkan Dorit sampai sekarang masih bekerja di bidang IT sebagai programmer, di sebuah perusahaan kelas dunia.

Banyak hal baru dan menarik yang aku pelajari dari mereka berdua. Mulai dari tips untuk travelling dan hiking, gaya hidup sehat dan pengobatan secara alami, tradisi orang Yahudi, sampai kisah asal muasal pertikaian Israel vs Palestina hingga keadaan sesungguhnya saat ini (media memang selalu membesar-besarkan keadaan supaya tampak dramatis), dan masih banyak lagi. Mereka juga banyak bercerita mengenai anak-anak dan keluarga mereka. Sangat-sangat menyenangkan, mengobrol dengan pasangan ini. Serasa tiada habisnya bahan obrolan yang dibicarakan.

Semenjak siang hari, Dorit sudah bersikeras mengatakan bahwa mereka ingin membelikan sesuatu untuk kami sebagai balas jasa telah memberikan tumpangan selama di sini. Tentu saja aku bilang tidak perlu. Dorit sampai setengah memaksa, katanya aku boleh minta apa saja yang aku inginkan, entah baju, perhiasan, apa saja deh! Wah aku benar-benar sampai berusaha mati-matian menolak dengan halus lho... Pada akhirnya Dorit memberikan sebuah buku berjudul "Requiem" untukku ^_^
Secara khusus mereka juga mengundang kami untuk singgah di rumah mereka kalau kami berkunjung ke negara Paman Sam. Mereka ingin menunjukkan suasana dan alam di daerah tempat tinggal mereka.



Sore harinya, karena mereka berdua suka minum kopi, kami ajak ke Conato Cafe milik teman kami. Aku tahu di tempat ini makanan dan minuman yang disajikan sepadan dengan harganya, beda dengan tempat lain yang kadang cuma menang mahal doang.
Kebetulan teman kami yang menjadi manager di sini, Asmin, sedang berada di tempat, dan pada akhirnya malah kami disuruh makan dan minum apa saja, semuanya on the house, alias gratis. Wah baik banget ya... Danny dan Dorit juga sangat menikmati kopi dan roti yang mereka pesan di sini. Suasana di tempat ini cukup menyenangkan dan saat itu ramai dengan pengunjung, yang kebanyakan adalah anak-anak muda.



Setelah menghabiskan waktu lebih dari satu jam untuk mengobrol dan makan, kami mengajak mereka berdua ke kelenteng, kuil Kong Hu Cu yang ada di kota. Kami sendiri baru pertama kali berkunjung ke tempat ini hahahaha... jadi sekalian mengajak tamu, sekalian melihat-lihat juga. Kelentengnya sendiri baru saja selesai dibangun, karena bangunan yang lama sempat terbakar habis beberapa waktu sebelumnya. Bangunan yang sekarang tampak megah dan indah, dengan banyak patung dewa di dalamnya, yang rata-rata merupakan sumbangan dari para jemaatnya.

Dari kelenteng, kami mengajak Danny dan Dorit ke Pantai Boom, pantai di dalam kota Banyuwangi. Pantainya biasa saja sih, dan saat itu kebetulan hujan turun juga, jadi pemandangannya flat banget. Tapi aku tahu mereka sangat menghargai kami mengajak mereka kesana kemari, dan mereka tampak senang.




Malam harinya, kami makan di rumah dengan hidangan sederhana. Aku membuatkan beberapa macam rebusan sayuran beserta tahu goreng dan tempe goreng tepung. Walaupun katanya tidak terlalu lapar akibat dijamu oleh Asmin sore harinya, tapi mereka makan dengan lahap, dan suka sekali dengan tempe gorengnya. Katanya di USA sana, susah sekali mencari tempe yang enak. Kalaupun ada yang jual, kebanyakan sudah dalam keadaan beku, jadi rasanya pun sudah berbeda.
Kami pun melewatkan malam dengan mengobrol lagi, dan saat mereka sudah tampak lelah, mereka berpamitan untuk tidur.



Pagi harinya, kami sempat mengajak Dorit jalan-jalan di dalam kompleks perumahan kami. Katanya, kalau di USA rumah-rumah yang berada di kompleks seperti ini biasanya mahal. Beberapa desain bangunan mengingatkannya akan rumah-rumah di daerahnya juga. Danny dan Dorit sendiri tinggal di sebuah kota kecil, yang cuacanya tidak terlalu ekstrem.
Setelah berjalan pagi, kami di rumah saja sembari mereka berdua menyiapkan barang-barang mereka.

Sedianya, hari itu mereka berangkat kembali ke Bali naik travel. Hanya saja, travel yang kami tahu hanya berangkat pada malam hari, sedangkan mereka ingin berangkat pagi atau siang hari. Kami mendapat info dari teman untuk menggunakan jasa travel yang satu ini, dan seharusnya mereka dijemput jam 9 pagi.
Sekitar jam 8 pagi, aku menyiapkan sarapan sederhana, hanya pisang goreng dan kopi, dan ternyata mereka juga suka sekali makan pisang goreng. Saat sedang sarapan itulah, teman kami Asmin datang. Danny memesan kopi asli Banyuwangi dari Asmin sehari sebelumnya, dan pagi ini Asmin datang mengantarkan kopi tersebut. Kata Danny untuk oleh-oleh buat keluarganya dan untuk mereka sendiri juga ^_^



Asmin hanya singgah sebentar di rumah karena masih banyak pekerjaan yang harus dia lakukan. Sementara itu, sembari mengobrol, tunggu punya tunggu, baru sekitar jam 12 siang travel yang ditunggu-tunggu datang. Itu pun, koper yang dibawa nyaris tidak cukup untuk masuk ke dalam bagasi mobil. Tempat duduknya pun berdesakan, sepertinya kelebihan penumpang. Aduh, aku malu banget sebetulnya, kualitas pelayanan travelnya buruk banget. Untungnya Danny dan Dorit bisa bertahan selama di perjalanan dan sampai dengan selamat di Denpasar sore hari menjelang malam. Mereka bilang, perjalanan dengan travel ini merupakan salah satu pengalaman buruk mereka, namun berjumpa dengan kami dan singgah di rumah kami adalah pengalaman paling menyenangkan selama mereka berlibur ke Indonesia. Wah, sampai tersanjung aku membaca pujian mereka hehehehehe...

Pengalaman keduaku bersama tamu asing di rumah ini sangat menyenangkan. Ternyata begitu banyak pengalaman dan pengetahuan baru yang bisa kudapat dengan menerima tamu di rumah. Karenanya aku jadi ingin lebih sering lagi menerima tamu dari berbagai negara, berharap mendapatkan informasi atau pengalaman dari mereka.

Terima kasih Danny dan Dorit, walaupun saat ini aku belum berniat untuk mengunjungi USA, tapi mudah-mudahan suatu saat bisa bertemu kembali dengan kalian berdua, pasangan yang telah sangat menginspirasiku untuk lebih sering dan lebih lama lagi travelling ^_^

Tuesday, October 10, 2017

MY COUCHSURFING EXPERIENCE (1) - THE THREE GIRLS FROM FRANCE

MY FIRST UNOFFICIAL COUCHSURFING EXPERIENCE



COUCHSURFING itu apaan sih?

Couchsurfing International Inc. adalah sebuah perusahaan yang didirikan pada tanggal 2 April 2003, dan pertama kali meluncurkan websitenya pada tanggal 12 Juni 2004. Slogannya adalah: Stay with Locals and Meet Travelers.
Couchsurfing International Inc. mengoperasikan Couchsurfing.com, layanan situs jaringan sosial yang sekaligus bersedia menerima tamu. Situs ini menyediakan platform bagi para membernya agar bisa tinggal di rumah seseorang (seperti layanan homestay), menjadi tuan rumah bagi para traveller, bertemu member lain, atau bergabung dalam suatu acara.
Tidak seperti layanan lainnya, Couchsurfing merupakan contoh berbagi secara ekonomi kepada orang lain. Tidak ada pertukaran uang di antara para membernya, dan tuan rumah tidak mengharapkan apa pun sebagai balas jasa dari tamu-tamunya.
Dengan kata lain, Couchsurfing adalah jaringan sosial yang dimanfaatkan para traveller supaya bisa melakukan perjalanan dengan biaya yang murah a.k.a gratisan ^_^
Supaya mudah, kusebutkan tuan rumah sebagai host, dan tamu yang menginap sebagai surfer ya...

Untuk mendaftar sebagai anggotanya, nggak dipungut biaya, namun bagi anggota yang membayar diberikan fasilitas bebas mengirim pesan permintaan tanpa batas (bagi yang tidak membayar, maksimum mengirim 10 permintaan per minggu).
Sedangkan bagi host yang menyediakan tempat, diberi "hadiah" (reward) 3 bulan gratis keanggotaan (seolah-olah membayar untuk 3 bulan).
Bedanya bayar dan nggak bayar, kalau bayar (US$ 20/tahun) maka akan tertulis "verified member", kalau nggak bayar ya keluarnya "not verified".
Saat mendaftar, anggota diminta mengisi data diri dan informasi mengenai dirinya, mulai dari usia, gender (jenis kelamin), bahasa yang dikuasai, hal-hal yang disukai, hobi, kemampuan unik yang dimiliki, musik favorit, buku favorit, dan foto-foto diri maupun tempat yang ditawarkan. Jadi yang mencari host, bisa saja mencari berdasarkan kesamaan hobi, atau bahasa.

Kalau ingin tahu platformnya seperti apa, install saja aplikasinya dari Google Play ke dalam smartphone. Namanya "Couchsurfing" di Google Play.

Buat travellers, tentu saja hal ini menguntungkan secara material, dan kalau dapat host yang baik akan lebih menyenangkan lagi, karena bisa menghabiskan waktu atau nongkrong bareng, ngobrol, atau melakukan hobi yang sama. Kadang host juga bisa mengantar surfernya jalan-jalan atau ke tempat-tempat yang dibutuhkan.

Bagi host sendiri, menurutku Couchsurfing ini seperti "travelling without travelling". Kita bisa mendapatkan pengalaman, ilmu, dan tentunya teman baru, tanpa kita harus bepergian kemana-mana, cukup menyediakan tempat untuk mereka bermalam.
Sebagai host, nggak ada keharusan untuk menyediakan kamar, apalagi kamar privat. Suka-suka aja, kalau adanya cuma sofa di ruang tamu juga bisa kok. Namanya juga "couchsurfing" alias mencari sofa. Ada juga host yang menyediakan kamar, tapi tidurnya ya sekamar sama hostnya (kadang yang begini yang masih ngekost atau tinggal di apartemen).
Soal makanan apa lagi, nggak ada kewajiban kasih makan atau apa pun. Kalau sampai host memberi lebih daripada sofa kepada surfernya, sudah OK lah. Kalau lebih dari itu,  misalnya sampai mau meluangkan waktu khusus buat surfernya, apalagi memberi sesuatu yang berbentuk materi (makanan, minuman, minjemin handuk, selimut, atau kasih ijin pakai mesin cuci misalnya), berarti hostnya udah baik banget lah.
Tapi kadang ada juga surfer yang mandiri, dan hanya butuh "tempat kosong", seperti halaman rumah atau teras, dan dia akan memasang tenda dan sleeping bagnya sendiri untuk tidur.

Setelah surfer check-out dari rumah hostnya, keduanya diberikan kesempatan untuk saling memberi referensi, entah itu positif atau negatif, sesuai dengan pengalaman yang dirasakan.

Bagi surfer maupun host, ada resiko dan bahayanya masing-masing.
Ada (banyak) surfer yang nakal, memanfaatkan platform ini benar-benar untuk sekedar cari tempat menginap gratis, tanpa mempedulikan aturan, budaya, maupun perasaan hostnya. Ada juga yang modelnya ingin dapat pelayanan hotel bintang lima tapi gratis.
Ada juga cerita surfer yang ternyata suka mencuri barang hostnya atau barang milik surfer lain yang kebetulan berada di rumah yang sama.

Di lain pihak, ada (banyak) juga host yang perlu diwaspadai. Mereka memanfaatkan fasilitas ini untuk hal-hal yang nggak bener. Misalnya nih, host cowok, maunya dapat surfer cewek, lalu mencoba merayu atau melecehkan surfernya. Bisa juga terjadi sebaliknya. Pernah beberapa kali terjadi pemerkosaan (kadang surfernya dibuat mabuk atau diberi obat yang bersifat bius/tidur), bahkan penyiksaan atau pembunuhan!
Ada juga host yang memanfaatkan platform ini untuk cari duit. Nggak salah-salah amat sih, cuma menurutku nggak pantes aja. Jadi biasanya mereka menuliskan kalau pekerjaannya guide ke gunung X, misalnya. Terus ditulis nih, kalau mau dianter sampai gunung X, naik motor biayanya xxx rupiah. Kalau bayar kurang dari itu, nggak usah tidur tempatku deh.
Nah lho, komersil banget kan? Dari nginepnya kasih gratis, tapi nggak mau rugi, gimana caranya biar surfernya tetap menghasilkan uang buat dia. Dan kadang tarifnya juga mahal lho untuk jasa tambahan ini. Aku baca sendiri profil yang seperti itu (orang Indonesia nih).
Biasanya orang-orang begini (baik host maupun surfer) memang hanya mau memanfaatkan orang lain saja demi kepentingan pribadi.

Katanya untuk menghindari hal-hal negatif yang seperti itu, biasakanlah membaca referensi terlebih dahulu sebelum menyetujui tawaran atau permintaan, karena dari situlah kita akan mengetahui pandangan orang lain terhadap orang tersebut.
Tadinya aku dan suamiku juga begitu, referensi dari orang-orang lain dibaca bener-bener, ada lho yang jumlah referensi positifnya sampai lebih dari 100. Hebat kan? Tapi kenyataan dan waktu membuktikan bahwa referensi juga nggak bisa dijadikan patokan sama sekali. Kalau aku sendiri, sekarang lebih percaya pada "gut" (mungkin terjemahan bebasnya insting kali yah). Kalau nggak sreg, biarpun referensi positifnya sampai lebih dari 100 juga nggak akan diterima. Namun ada beberapa orang yang cuma punya referensi sedikit, atau belum punya referensi  sama sekali (baru pertama kali mau jadi surfer), bisa saja aku terima.
Tergantung dari apanya?
Satu, cara dia menulis request (permintaan). Akan tampak kalau dia nulisnya sungguh-sungguh atau iseng-iseng dari caranya menulis. Ada lho, yang udah mau numpang tidur, nyebutin nama hostnya aja nggak, jadi kelihatan banget kalau copy paste dan mungkin dia kirimnya ke banyak orang.
Kedua, dari profilnya. Bagaimana cara orang tersebut menulis isi profilnya, ternyata juga cukup menentukan lho. Profil yang ditulis dengan sungguh-sungguh, atau hanya asal tulis doang biar kelihatan ada isinya.
Ketiga barulah referensi. Kalau ada satu saja referensi negatif, kita sudah harus waspada. Bahkan tanpa referensi negatif pun tetap harus waspada. Kadang orang ternyata masih sungkan atau takut menuliskan referensi negatif, karena orang yang dimaksud masih bisa membalas referensi yang ditulis untuknya. Kalau orang yang dasarnya negatif, menyebalkan, atau memanfaatkan, lalu ditulis sesuai apa adanya, lalu dia membalas dan justru memfitnah balik, itulah yang berabe.
Aku sendiri belum pernah menulis referensi negatif untuk orang lain, karena faktor barusan di atas tadi. Semua referensi atau komentar terhadap referensi, nggak bisa diedit atau dihapus sama sekali, kecuali account yang digunakan dihapus/didelete. Makanya agak repot juga kan kalau mau selalu jujur. Lebih baik nggak nulis referensi kalau begini.
Jadi memang alangkah baiknya kalau kita bisa memilih betul surfer atau host kita. Belajar dari pengalaman adalah cara terbaik.

Aku sendiri ikut Couchsurfing lebih karena ingin menjadi host ketimbang menjadi surfernya. Ya memang bisa saja kalau pas ke luar kota atau ke luar negeri, cari-cari penginapan gratisan semacam ini. Tapi ya itu tadi, apakah kita pasti akan nyaman dengan orang yang menjadi host kita? Apakah kita sudah mengetahui budaya dan kebiasaan sebagai tamu di negara yang akan dikunjungi tersebut? Banyak faktor sih, tapi sejauh ini aku dan suamiku mendingan nginap di penginapan yang murah-murah saja. Mungkin suatu saat nanti kalau ada host yang bener-bener cocok dan sreg baru deh dicoba jadi surfer. Pastinya, beberapa "mantan" surferku orang-orangnya memang sangat baik, open minded, dan menyenangkan. Tapi hampir semuanya orang Eropa, dan entah kapan aku bisa keliling ke Eropa nih... hahahaha....

Couchsurfing itu cocok-cocokan menurutku, sifatnya lebih ke person to person, bukan seperti di media sosial. Host dan surfer yang sama-sama baik, belum tentu bisa cocok dan "connect" saat bertemu.
Nah di atas cerita soal platformnya yah, terus bagaimana ceritanya pertama kali aku bisa gabung di Couchsurfing ini?

Waktu itu, tanggal 25 November 2016 siang, aku dan suamiku sedang berada di atas kapal feri dari pelabuhan Gilimanuk, Bali, menuju ke pelabuhan Ketapang, Banyuwangi. Kami baru selesai berlibur di Bali, dan sedang dalam perjalanan pulang.
Sewaktu di atas feri ini, ada 3 cewek bule, dan mungkin mulai dari setengah perjalanan, kami mulai mengajak ngobrol. Mereka bertiga berasal dari Perancis, dan sedang dalam perjalanan ke Banyuwangi untuk mendaki Ijen. Mereka bertiga naik 2 sepeda motor. Kemudian si cewek yang paling besar badannya ini tanya, kalau cari penginapan di Banyuwangi susah nggak? Lalu suamiku bilang kepadaku, kalau mau suruh nginep di rumah saja.
Jadi kubilang begitu kepada si cewek ini, kalau kamu mau, kamu boleh tidur di rumahku. Gratis. Sepertinya dia agak kaget, terus dia laporan dan berunding dulu sama temannya yang 2 orang. Akhirnya mereka setuju.

Sebelum turun dari feri, kami memasukkan backpack mereka yang jumbo-jumbo ke dalam mobil kami, supaya mereka tidak kesulitan membawanya, lalu mereka mengikuti di belakang kami naik sepeda motor saat feri sudah bersandar.
Sesampai di rumah, sepertinya mereka senang sekali. Dari siang sampai sore itu, kami banyak mengobrol. Mereka bertiga orangnya asyik dan seru. Yang berbadan paling besar namanya Segolette, yang lebih kecil tapi rambutnya coklat namanya Morgaine, dan yang paling kecil dan berambut hitam namanya Laetitia.
Segolette sedang memulai perjalanannya karena dia baru saja mengambil sabbatical holidaynya (di sana ada istilah cuti panjang untuk beberapa pekerjaan tertentu, dengan syarat tertentu, yang lamanya bisa 6-12 bulan). Morgaine sendiri bekerja sebagai volunteer/sukarelawan di mana saja ada pekerjaan. Sedangkan Laetitia hanya mengambil liburan jangka pendek sebelum memulai lagi pekerjaannya mengajar.
Siang itu aku memasakkan nasi goreng untuk mereka, karena mereka belum makan siang. Dan mereka mau mencoba makan dengan tangan lho, lucu sekali melihatnya.


Selanjutnya, mereka memaksa akan memasakkan makan malam buat kami karena sudah ditumpangi tempat, bahkan rencananya kami berdua yang akan mengantar mereka sampai ke Paltuding, basecamp sebelum mendaki Gunung Ijen.
Jadilah sore hari kami mengantar mereka ke pasar untuk belanja bahan makanan yang mereka butuhkan untuk masak. Mereka yang bayar sendiri lho...
Malam itu pun rumah kami ramai dengan 3 cewek yang sibuk di dapur kami, sedangkan kami menonton. Mereka memasakkan makanan khas Perancis, katanya, entah apa namanya aku sudah lupa, karena susah banget diinget... Ada kentang yang diiris-iris agak tipis, ayam, lalu dioven menggunakan loyang, ditambah beberapa macam bumbu, susu cair, dan tomat serta bawang bombay.


Buat aku yang pemakan segala, rasanya enak juga lho ^_^
Suamiku nggak begitu demen, tapi doyan kok. Kami berlima makan malam bersama dalam suasana yang menyenangkan. Tidak terasa, waktu berlalu begitu cepat dan waktu sudah menunjukkan jam 10 malam, maka kami pun tidur.


Menjelang jam 1 pagi, kami bangun, dan setelah bersiap-siap, kami mengantarkan mereka bertiga ke Paltuding. Kami sudah mengaturkan seorang guide untuk mereka, supaya mereka nggak bingung di sana nantinya. Setelah bertemu dengan guidenya (Mas Eko, yang ceritanya juga ada di salah satu postinganku tentang Ijen), kami pun pulang ke rumah dan berusaha untuk tidur lagi. Baru bangun lagi jam 7 pagi, dan menjelang jam 8 pagi kami sudah berangkat menjemput mereka di Paltuding.

Tampaknya mereka kelelahan sekali, di mobil pun tertidur hehehehe... Sampai di rumah, mereka juga langsung tidur sampai siang hari. Setelah bangun, barulah mereka mandi, dan sekitar jam 1.20 siang, kami makan lagi bersama-sama. Aku sudah menyiapkan bakmi goreng, ikan goreng tepung, orak-arik sayuran, tempe goreng tepung, dan puding santan sebagai hidangan penutup. Kayaknya sih mereka suka dengan apa yang aku masakkan, makannya lahap semua. Kata mereka, wah rasanya seperti makan hidangan di pesta saja ^_^


Nggak lama setelah makan siang, mereka pun berpamitan hendak kembali ke Bali lagi. Dari ketiga orang ini, masing-masing mempunyai rencana yang berbeda-beda. Segolette dan Morgaine akan kembali ke Bali, dan melanjutkan perjalanan ke Australia. Sedangkan Laetitia harus sampai di Surabaya keesokan harinya, karena dia akan pulang ke negerinya dengan pesawat dari Surabaya.

Jadilah Segolette dan Morgaine berangkat pergi mengendari sepeda motor mereka masing-masing sekitar jam 3 sore, sedangkan Laetitia ikut mengantar mereka ke Ketapang, dan baru kembali ke rumah sore harinya dengan naik ojek (bukan ojek sih, tapi anak perempuan di Ketapang yang mau nganterin dan lalu dibayar dengan sejumlah uang, itu pun pakai acara nyasar kemana-mana hahahaha).

Walaupun Laetitia nggak terlalu mengerti bahasa Inggris, tapi kami masih bisa sedikit ngobrol menggunakan Google Translate. Lucu juga jadinya. Laetitia juga menyerahkan secarik kertas dari Segolette dan Morgaine, yang isinya berterima kasih kepada kami, dan meninggalkan uang sebesar 150 ribu rupiah. Tentunya kami nggak mau menerima uang tersebut, dan akhirnya kami pakai untuk membayar transportasi Laetitia malam itu. Laetitia juga memberikan sebotol kecil (seperti botol untuk sampel) parfum, yang baunya wangi sekali. Asli buatan Perancis lho hehehehe....


Sekitar jam 8 malam, Laetitia dijemput oleh travel yang akan mengantarnya ke Surabaya, langsung ke bandara. Uang yang tadi kami serahkan kepada Pak Sopirnya, dan memberi tahu Laetitia bahwa transportnya sudah dibayar. Entah ngerti atau nggak tuh hahahaha....

Senang sekali menerima tamu di rumah kami, apalagi putri kecil kami sudah tidak lagi di rumah. Suasana jadi ramai dan hidup kembali saat mereka di rumah.
Pada saat mengobrol di siang hari itulah, Segolette dan Morgaine memberi tahu kami akan adanya Couchsurfing ini, dan katanya kalau kami suka menerima tamu, ikut Couchsurfing saja.... ^_^

Begitulah awal ceritanya pertama kali aku mendengar istilah Couchsurfing (walaupun belum langsung mendaftar jadi anggota saat itu). Ketiga gadis dari Perancis ini telah menjadi surfer nggak resmi kami untuk pertama kalinya.
Dari sini pulalah aku mulai lebih percaya diri untuk memulai lebih dulu percakapan dengan turis asing (kalau ketemu di jalan) dan berusaha membantu apabila mereka menemukan kesulitan.

Dari Couchsurfing pertamaku ini, aku jadi memperoleh sebuah pengalaman yang baru, unik, menyenangkan, dan tentunya menambah teman baru pula. Mereka mengatakan kalau kami ke Perancis, kami memiliki 3 rumah untuk tempat tinggal di kota yang berbeda-beda.
Well, I hope I can see you again, girls!

Au revoir et à bientôt !!

Monday, June 12, 2017

IJEN CRATER HIKE 11 Juni 2017

Minggu, 10 Juni 2017



Hari Jumat malam, kami kedatangan seorang tamu couchsurfing dari Macedonia. Namanya Gea, perempuan ceria berusia 30 tahun. Orangnya sangat menyenangkan, enak diajak ngobrol, dan dia benar-benar seorang pecinta alam sejati. Pecinta alam bukan hanya berarti orang yang suka hiking (namun ini juga salah satu hobinya), akan tetapi orang yang betul-betul sangat memperhatikan kelestarian alam.

Kami banyak sekali bertukar cerita dan pengalaman, dan aku belajar banyak hal darinya. Tentang tips-tips hiking dan surviving di alam, hubungan dengan orang lain maupun dengan alam, dan bahkan aku diajari teknik-teknik dasar yoga olehnya.

Gea adalah seorang raw vegan sejati. Dia hanya makan buah dan sayuran mentah. Satu buah pepaya berukuran besar bisa dihabiskan untuk sekali makan. Bahkan sebagian bijinya pun dimakannya! Saat camping di hutan, dia bisa makan daun-daun yang ada di dalam hutan loh! Hehehe... Pokoknya menarik sekali deh kehidupannya ^_^

Karena Gea ingin mencoba mendaki Ijen, maka kami berdua pun menemaninya, karena sebelumnya memang kami berencana ingin ke Ijen, hanya belum menentukan waktunya.

Hari minggu jam 1 pagi, kami berangkat menuju Paltuding, base camp untuk mendaki Ijen. Jaraknya sekitar 1 jam perjalanan dari rumah, dan melewati jalanan yang cukup menyeramkan. Jalannya berkelak-kelok tajam, gelap, dan banyak tanjakan yang cukup curam. Di jalan bahkan ada sebuah mobil yang mogok di daerah Erek-Erek, tempat yang tanjakannya paling curam.

Sesampainya kami di Paltuding, banyak penjual beanie, jas hujan dan sarung tangan yang menawarkan dagangannya. Beberapa guide pun menawarkan jasanya. Kami sendiri sudah mempunyai guide sendiri, namanya Eko.

Setelah beberapa lama menunggu, mas Eko datang juga, rupanya dia ketiduran, sehingga agak terlambat. Setelah membeli tiket, sekitar pukul 2.30 pagi kami mulai mendaki. Untuk hari kerja, tiket untuk turis lokal hanya Rp 5.000,- dan turis mancanegara Rp. 100.000,- per orang.

Mendaki gunung Ijen selalu terasa berat bagi kami, karena jalannya kebanyakan agak curam, dan pendakian di malam hari membuat kita kekurangan oksigen sehingga mudah kehabisan nafas. Namun kami tetap berjalan dan terus berjalan. Gea sudah kerap kali mendaki gunung, karenanya bagi dia mendaki Ijen adalah hal yang mudah. Gea berjalan mendahului kami dan akan menunggu di puncak.

Suami sempat pusing, sehingga kami berhenti sejenak untuk beristirahat. Setelah agak baikan, kami melanjutkan berjalan kaki, dan tidak lama kemudian sudah tiba di kantin (pos terakhir di titik 2 km). Aku agak terkejut juga, karena dulu rasanya lamaaaaaa sekali baru sampai di kantin ini. Setelah minum teh, suami jadi semangat lagi, dan bahkan jalannya paling cepat sampai ke puncak ^_^

Kami tiba di puncak Ijen sekitar pukul 4 pagi, lalu bersama Gea yang sudah menanti, langsung ke tangga menuju dasar gunung. Tangganya sangat sempit dan hanya tersusun dari batu-batuan dan pasir atau tanah, gelap sekali, dan kadang sangat curam dan licin sekali. Untung mas Eko sigap membantu setiap kali dibutuhkan. Begitu banyak pengunjung, sehingga kadangkala harus menunggu giliran. Belum lagi sesekali penambang yang lewat dari arah berlawanan membawa pikulannya yang penuh berisi sulfur, sehingga kami harus minggir dan memberi jalan.


Ada sekitar 45 menitan cukup berdebar-debar menuruni tangga tersebut, karena di pinggirnya banyak yang berupa jurang bebatuan. Akhirnya kami sampai di spot untuk melihat blue fire, api abadi yang berwarna biru.

Konon kabarnya, blue fire hanya ada 2 di seluruh muka bumi ini. Yang pertama berada di Iceland, dan yang kedua ada di Ijen. Tidak heran makin lama Ijen makin dikenal oleh turis asing.

Buat kami berdua, blue firenya sendiri memang indah, tapi tidak wow banget. Saat itu keadaan masih gelap, sehingga tidak ada yang bisa dilihat selain blue fire dan kepulan asap dari tambang sulfur.


Perlahan-lahan, suasana mulai agak remang-remang dan semakin terang. Saat itulah mulai terlihat betap indahnya tempat ini. Sekeliling kami berupa dinding bebatuan yang sangat indah, dan danau kawah Ijen mulai menampakkan warna turquoise nya yang cantik.


Setelah memotret pemandangan sekitar dan beberapa selfie, kami kembali ke atas menuju puncak. Jalan naik terasa lebih mudah karena tidak selicin waktu turun. Selain itu ada beberapa spot yang sangat bagus untuk memotret.


Sesampainya kami di atas, kami beristirahat dulu sembari makan bekal yang kami bawa dari rumah, karena asap bercampur kabut sedang sangat tebal sehingga hanya bisa melihat dalam radius dekat. Angin pun bertiup luar biasa kencangnya. Sepertinya banyak pengunjung sampai kedinginan. Mungkin suhu saat itu mencapai 4-6 derajat Celcius. Ternyata long traveling di NZ kemarin membuatku jadi lebih kebal terhadap udara dingin. Dulu kalau ke Ijen selalu tidak tahan terhadap dinginnya, tapi kali ini biasa saja ^_^




Tadinya aku sudah pesimis tidak akan bisa melihat danau/kawah dari puncaknya. Namun perlahan-lahan asap dan kabut mulai terkuak, dan matahari pun tampak menyinari dinding kawah. Lama-kelamaan danau di dalam kawah dan perbukitan di belakang kami pun tampak dengan jelas. Waaah indah sekali ^_^




Kami pun berjalan menyusuri puncak sampai beberapa ratus meter jauhnya. Lalu tampak di kejauhan, di arah pulang, awan putih tampak sangat tebal, sepertinya hujan. Maka kami pun berjalan kembali ke arah pulang. Kabut yang sangat tebal membawa tetesan-tetesan air yang sangat halus. Kilometer pertama menuruni puncak sampaj di kantin, kabutnya benar-benar luar biasa tebalnya, keren banget loh!


Kami sempat ngopi dulu di kantin sampai sekitar pukul 7.45, lalu turun ke arah parkiran. Dulu kalau turun pun masih pake banyak berhenti untuk istirahat, namun kali ini benar-benar nonstop. Jarak 2 km ditempuh dalam waktu sekitar 15 menit saja. Ditambah lagi hujan turun walau tidak terlalu deras, wah... makin seru dan menyenangkan rasanya.

Sesampai di parkiran, kami membereskan peralatan, lalu beranjak keluar dari parkiran. Kali ini kami diundang oleh mas Eko untuk mampir ke rumahnya.

Rumah mas Eko cukup jauh dan agak blusukan ke desa. Bangunannya sangat sederhana, lantainya pun hanya berupa tanah liat. Kami bertukar cerita dan mengobrol hampir satu jam lamanya. Istri mas Eko menyuguhi kami kopi dari kebun mereka sendiri. Kopinya enak sekali, karena tanpa ditambahi campuran ini dan itu seperti yang banyak dijual di mana-mana.

Mas Eko ini sudah menjadi guide langganan kami semenjak pertama kali naik Ijen. Orangnya baik dan sabar. Sebetulnya tanpa guide pun kami bisa jalan sendiri, karena sekarang ini Ijen menjadi salah satu obyek wisata yang cukup favorit bagi turis manca negara. Jadi setiap malam selalu ramai dengan turis asing, dan kebanyakan mereka pun memakai jasa guide, atau mereka ikut open trip dari agen wisata, dan pasti disediakan guide. Jadi kalau mau, bisa mengikuti rombongan-rombongan tersebut.

Namun demikian, kami mempunyai misi lain. Mas Eko dan kebanyakan guide lainnya (kecuali guide yang dari rombongan hotel atau pribadi), mereka rata-rata aslinya adalah pekerja tambang sulfur/belerang di Ijen. Penghasilan mereka sangat minim. Dua tahun lalu, per kg sulfur dihargai Rp 925,-. Para penambang memikul sulfur padat dengan hanya pikulan bambu tradisional. Sekali pikul dengan 2 buah keranjang, beratnya berkisar 50kg sampai lebih dari 100kg, tergantung kekuatan mereka. Mereka harus naik dulu ke puncak, lalu turun ke dasar untuk mengambil sulfur yang sudah padat, lalu naik lagi ke puncak, dan turun sampaj parkiran mobil. Total jaraknya sekitar 7.6 km PP. Dan terkadang mereka melakukannya 2-3 kali dalam sehari. Terkadang kalau sedang apes, sepeda motor mogok atau sakit, mereka tidak bisa membawa pulang uang yang mereka dapatkan ke rumah. Sungguh mengenaskan sekali.

Saat itu, mereka pun menawarkan jasa mengangkut orang dengan pikulan, biasanya ini buat turis yang manja dan ingin tiba di puncak tanpa harus merasa lelah.Per orang dikenai tarif Rp 400.000,- pulang pergi, dan hasilnya dibagi 2, karena dipikul oleh 2 orang.


Setelah itu mulai ada beberapa penambang yang mengganti pikulan dengan dorongan, seperti gerobak kecil. Mereka menyebutnya troli atau taksi. Dengan troli ini mereka bisa membawa lebih banyak sulfur dengan harapan bisa membawa pulang uang lebih banyak. Mereka tetap harus menambang di dasar dan mengangkutnya dengan pikulan, namun sampai puncak, semua sulfur dipindahkan ke troli. Kadang sulfur dipukul-pukul, dipecah agar lebih kecil ukurannya, lalu dimasukkan ke dalam karung, baru dimuat ke troli, supaya lebih banyak yang bisa dibawa. Namun troli ini sendiri tidak murah, harganya sekitar 1,5 juta rupiah. Sangat mahal bagi mereka, jadi masih jarang sekali penambang yang memakai troli.


Dua tahun berlalu semenjak itu, dan kehidupan para penambang masih belum jauh berbeda. Hari ini harga sulfur jadi Rp 1.000,-/kg. Mereka masih tetap harus mengais rejeki dengan susah payah, karenanya banyak di antara mereka yang bekerja sambilan atau bahkan beralih profesi sebagai guide. Penambang yang menggunakan troli sudah cukup banyak, namun masih ada beberapa yang masih memikul hasil sulfur yang mereka peroleh. Bagi yang memiliki troli, mereka pun menawarkan jasa naik "taksi" untuk turis yang tidak kuat berjalan. Biayanya Rp. 600.000,- per orang untuk pulang pergi. Itu pun masih dibagi 2 orang, karena seorang bertugas mendorong taksinya, dan seorang lagi menarik dari depan.

Mas Eko sendiri sudah menjadi penambang selama 10 tahun lebih. Usianya saat ini baru 30 tahun. Putra pertamanya berusia 10 tahun, yang kedua berusia 20 bulan. Terkadang rasanya ironis sekali, saat berada di dasar kawah, para penambang berpeluh memikul sulfur, sementara para turis sibuk selfie. Bahkan kadang ada penambang yang diajak selfie dengan tetap memikul bebannya, tanpa diberi imbalan apa pun.

Karena itulah, kami berharap dengan menggunakan jasanya, kami bisa sedikit membantu perekonomian mas Eko dan keluarganya.

Overall pendakian ke Ijen kali ini sangat berkesan, karena kami bisa melihat blue fire, dapat view kawah dan danau dari puncak, dan perjalanan turun tidak sedikit pun kepanasan. Aku sangat bersyukur masih diberi kaki yang bisa kuat dipakai untuk berjalan mendaki tempat yang indah ini... ^_^

Selamat bertualang! ^_^